Beranda | Artikel
Mendidik Anak Mencintai Keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
19 jam lalu

Mendidik Anak Mencintai Keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 23 Rajab 1447 H / 12 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Mendidik Anak Mencintai Keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Perlu dipahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menjadi sempurna manakala diiringi dengan kecintaan kepada keluarga beliau. Mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkannya. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surah Asy-Syura ayat 23:

…قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ…

“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kalian mencintai keluargaku.” (QS. Asy-Syura[42]: 23)

Melalui ayat tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan kepada umat bahwa beliau tidak mengharapkan upah materi atas dakwahnya. Beliau hanya menginginkan umatnya mencintai keluarganya. Imam Said Ibnu Zubair dalam Tafsir at-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-qurba dalam ayat tersebut adalah keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mengingat hal ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bentuk ibadah dan amal shalih. Kewajiban ini tidak hanya ditujukan bagi orang tua, tetapi juga harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Sangat disayangkan apabila pembahasan mengenai cinta kepada keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jarang diangkat, padahal kedudukannya sangat penting dalam agama.

Terdapat tiga langkah nyata dalam mendidik anak agar mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Siapa Yang Termasuk Keluarga Nabi

Langkah pertama adalah mengenalkan siapa saja yang termasuk dalam keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tanpa mengenal mereka, mustahil bagi anak-anak untuk menumbuhkan rasa cinta dan penghormatan yang tulus. Mengenalkan identitas dan kemuliaan mereka merupakan fondasi awal sebelum melangkah pada tahap pendidikan selanjutnya.

Seseorang tidak mungkin dapat mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan benar tanpa mengetahui siapa saja mereka. Berdasarkan tuntunan agama, keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terdiri atas empat kelompok utama:

Keturunan Beliau: Meliputi putra, putri, cucu, cicit, hingga generasi seterusnya ke bawah. Contohnya adalah putra beliau, Al-Qasim dan Ibrahim; putri beliau, Fatimah; serta cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain.

Istri-Istri Beliau: Para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara mutlak adalah bagian dari keluarga beliau. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk berhijab:

…إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 33)

Ayat ini secara gamblang menyebut istri-istri Nabi sebagai Ahlul Bait atau keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antara mereka adalah Khadijah, Aisyah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Hafsah putri Umar bin Khattab. Melalui pernikahan ini, Abu Bakar dan Umar berkedudukan sebagai mertua Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Keturunan Hasyim bin Abdi Manaf dan Al-Muthalib bin Abdi Manaf yang Beriman.

Alasan penyertaan keturunan Hasyim dan Al-Muthalib sebagai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ

“Sesungguhnya keturunan Al-Muthalib dan keturunan Hasyim adalah satu kesatuan (sama-sama keluargaku).” (HR. Bukhari)

Kesetiaan keluarga besar ini teruji dalam sejarah perjuangan Islam. Pada masa awal dakwah di Mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta orang-orang beriman pernah mengalami masa pengucilan atau pemboikotan yang sangat berat di sebuah lembah. Mereka dilarang berinteraksi dengan dunia luar dan tidak diperbolehkan menerima pasokan makanan.

Penderitaan yang dialami keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat masa pemboikotan di lembah sangatlah memprihatinkan. Para ibu tidak mampu mengeluarkan ASI karena tidak memiliki asupan makanan dan minuman sama sekali. Dalam kondisi yang sangat sulit tersebut, mereka terpaksa memotong-motong sandal yang terbuat dari kulit, kemudian merebusnya agar memiliki aroma menyerupai daging sebagai sumber protein. Selain itu, kulit pohon dikuliti dan dirajang untuk dijadikan bahan makanan demi bertahan hidup.

Dalam kondisi yang sangat menyedihkan tersebut, keturunan Hasyim dan keturunan Al-Muthalib menunjukkan solidaritas yang luar biasa dengan ikut membela dan menemani beliau. Mereka merupakan keturunan dari Abdi Manaf. Kesetiaan inilah yang menjadi salah satu sebab keturunan Hasyim dan Al-Muthalib ditetapkan sebagai bagian dari keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Beberapa sosok terkemuka dari dua keluarga tersebut antara lain:

  • Hamzah bin Abdil Muthalib: Beliau merupakan paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dikenal sebagai sosok pemberani.
  • Ali bin Abi Thalib: Beliau adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui pernikahan beliau dengan Fatimah, lahir cucu-cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Al-Hasan dan Al-Husain.
  • Ibnu Abbas: Putra dari Al-Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma yang merupakan sepupu Nabi.
  • Ubaidah ibnul Harits bin Al-Muthalib: Salah satu perwakilan dari keturunan Al-Muthalib Radhiallahu ‘Anhu yang setia membela beliau.

Menceritakan kisah-kisah menakjubkan tentang mereka

Setelah mengenalkan identitas keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, langkah selanjutnya adalah menceritakan kisah-kisah menakjubkan tentang mereka kepada anak-anak. Orang tua perlu menjelaskan bagaimana keteladanan mereka, mulai dari semangat menuntut ilmu, ketekunan dalam beribadah, kesederhanaan hidup, hingga keberanian dan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

Salah satu contoh ketekunan dalam belajar dapat dilihat dari kisah Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma. Meskipun beliau merupakan bagian dari keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memiliki kedudukan yang mulia, beliau tetap rendah hati dalam menuntut ilmu kepada para sahabat senior seperti Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dan sahabat senior lainnya.

Pernah suatu hari, Ibnu Abbas mendatangi rumah seorang sahabat senior pada siang hari untuk belajar hadits. Karena saat itu adalah waktu istirahat, beliau tidak mengetuk pintu agar tidak mengganggu pemilik rumah. Beliau memilih menunggu di depan pintu sambil membentangkan serbannya di atas tanah yang berdebu untuk dijadikan bantal. Di tengah cuaca padang pasir yang panas dan sumuk, beliau tetap sabar menanti hingga waktu salat tiba.

Ketika sahabat senior tersebut keluar rumah dan mendapati Ibnu Abbas sedang berbaring di depan pintunya, ia merasa sangat terkejut sekaligus segan. Ia segera membangunkan Ibnu Abbas dan bertanya mengenai alasan keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut sampai harus menunggu di depan rumahnya. Sahabat itu berkata bahwa seharusnya Ibnu Abbas mengirim utusan saja agar ia yang datang menghadap ke rumah beliau.

Mendengar hal itu, Ibnu Abbas memberikan jawaban yang sangat menyentuh mengenai adab terhadap ilmu dan guru. Beliau memahami bahwa ilmulah yang seharusnya didatangi, bukan ilmu yang mendatangi murid.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi anak-anak mengenai pentingnya adab, kerendahhatian, dan kesabaran dalam menuntut ilmu, meskipun seseorang memiliki nasab atau kedudukan yang tinggi. Dengan menceritakan sisi kemuliaan akhlak seperti ini, anak-anak akan merasa bangga dan semakin mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55969-mendidik-anak-mencintai-keluarga-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/